He he he, bidikan saya pada politisi-politisi Indonesia yang ndukung MU kena. Banyak banget yang mendukung MU, sang incumbent. Padahal statistik tahun ini jelas sekali perbedaannya, Barca di atas.
SBY yang peragu tapi bilang di atas kertas MU menang. Idih, kertas yang mana? Sayang dia gak lihat kolom saya. Boediono juga sudah pasti dukung MU. Apakah keduanya pegang MU karena terinspirasi sama2 incumbent kali.
Lha kok Andi Mallarangeng juga pilih MU, ini entah ikut2an 'nabi'-nya dia, si SBY, atau pilihan dia sendiri saya gak tau, yang jelas pertimbangannya gak begitu cerdas.
Dengan ge-er saya ngerasa paling jago urusan memprediksi siapa juara Liga Champions musim ini. Dengan ngasih nama depan anak laki2 saya Lionel pada Agustus 2008 lalu, saya sudah ngerasa Barca akan berjaya pada tahun 2009 ini dan beberapa tahun ke depan. Ini karena keberadaan si Lionel Messi. Selama dia berbaju Barca, maka Barca akan tetap dibawanya terbang tinggi.
Untuk Argentina, dia sudah mempersembahkan emas di Olimpiade Beijing. Tinggal menunggu waktu kapan Argentina dibawanya membawa trophy piala dunia.
Teater Barca dan MU, Suguhan Dekade Ini
Hingar bingar politik Indonesia kali ini musti menyingkir dulu. Walapun politisi-politisi Indonesia mencoba ikutan membaur dengan menyatakan dukungan ataupun komentar, tetaplah stadion Olimpico Roma yang menyuguhkan partai Barca vs MU menjadi perhatian utama jagad publik tanah air.
Yah, sebagai birokrat, malam nanti akan membuat sejenak saya melupakan kepenatan pekerjaan kantor dan masa tunggu tanggal muda yang kelamaan. Udahlah, kita kembali ke lapangan.
Barca, tim dengan permainan ‘total football’ dengan aroma latin khas tim Catalan terbukti menjadi pasukan paling produktif dalam Liga Champions (LC) musim 2008/09 ini. Tidak kurang dari 33 gol mereka lesakkan ke gawang lawan dari bombardir Messi, Eto’o, Henry, Iniesta, Xavi, Krkic, bahkan Pique.
Menyerang adalah filosofi tim ini yang dibangun sejak kedatangan si pencipta total football Rinus Michels pada tahun 1970-an, dia meletakkan fondasi tim yang khas dengan permainan menyerang ala Belanda yang diramu dengan bakat-bakat latin Catalan. Michels hanya berjaya di La Liga dan belum memberikan trophy Eropa bagi Barca. Tapi penerusnya adalah pangeran total footbal, Johann Crujff pada dekade 1990-an yang berhasil merajai La Liga dan sempat memberikan trophy Liga Champions pertama bagi Barca pada musim 1991/92 dan runner-up pada 1993/94. Lalu terakhir oleh generasi emas total football Belanda di Euro ’88, Frank Rijkard pada dekade 2000-an yang memberikan gelar juara Eropa pada musim 2005/06. Kini warisan sepakbola memikat itu diteruskan oleh pelatih lokal berbakat didikan Johann Cruijff, Josep ‘Pep’ Guardiola.
Filosofi total football dimana semua pemain bergerak bergelombang dengan sentuhan dari kaki ke kaki telah menghancurkan Sporting Lisbon, Shakhtar Donets, dan FC Basel di penyisihan grup C, lalu raja Perancis di 16 besar, Lyon dengan agregat 6-3 serta raja Jerman di 8 besar, Muenchen dengan agregat 5-1.
Seorang arsitek total football lainnya, Guus Hidink dengan Chelsea-nya, mencoba menghadang di semifinal dengan metode Cattenacio Italia. Pemain-pemain Chelsea dengan postur badan yang superior, Ballack (189 cm), Terry (187 cm), Alex (186 cm), Drogba (188 cm), Cech (191 cm), hampir berhasil mempecundangi Barca sampai menjelang detik-detik terakhir permainan. Tapi 2 bocah ajaib dengan tinggi badan 170 cm, Messi (assister) dan Iniesta (scorer) yang hanya didukung 8 orang lainnya (Abidal di kartu merah) menghentikan sebuah sistem anti total football ala Guus Hidink. Sebuah semifinal dramatis yang mungkin bisa disaingi oleh final LC musim 1998/99 ketika MU mempecundangi Muenchen dengan 2 gol lewat setpiece Beckham pada saat-saat terakhir.
MU sendiri, sang juara bertahan, adalah asuhan si gaek Sir Alex Ferguson sejak 1986 silam. MU adalah juara Eropa pada 1967/68, 1998/99, dan tahun lalu 2007/08. Dua gelar terakhir dipersembahkan oleh Fergie, sementara gelar pertama oleh Sir yang lain, Matt Busby. Pelatih yang mengasuh MU lebih dari 23 tahun ini adalah penganut sepakbola efektif yang mengutamakan keseimbangan di semua lini. Sistem yang sederhana yang disertai strategi yang tepat dalam melawan setiap tim yang dihadapi memperlihatkan intelegensia seorang Fergie dalam meramu MU. MU adalah tim yang sulit dikalahkan walaupun dalam keadaan tertinggal. Kita bisa melihat ini pada saat MU-Juve di perempat final musim 1998/99, Muenchen di final 1998/99, serta Roma pada perempat final 2004/05.
Pada LC musim ini MU, walaupun sedikit kalah mengkilat dibanding Barca, juga tidak kurang elegannya dalam melewati fase-fase yang menentukan dalam perjalanan menuju Roma. Kalau Barca paling produktif dengan 33 gol, MU hanya 18 gol tapi justru paling sedikit kebobolan, hanya 8 gol sementara Barca 13 gol. Perjalanan MU seperti tim Panser Jerman, makin lama makin panas dan kencang. Diawali laga-laga kurang meyakinkan di fase penyisihan Grup E dimana hanya menang 2 kali melawan Aalborg dan Celtic tanpa bisa mengalahkan Villareal, toh MU tetap lolos sebagai juara grup.
Perjalanan berikutnya juga masih dilewati dengan ‘harap-harap cemas’. Imbang dengan Inter Milan di San Siro tapi mempecundanginya dengan 2 gol di Old Trafford di 16 besar. Lalu FC Porto dilibas dengan sebuah gol tunggal spektakuler Ronaldo di Porto setelah menahan imbang 2-2 di Manchester. Makin lama makin panas, Arsenal jadi korban di semifinal dengan 2 kekalahan, 1-0 di Old Traford dan 3-1 di Emirates Stadium.
Ancaman untuk Barca akan dimulai dari Pemain Terbaik Dunia 2008, Ronaldo, si bandel nan gempal, Rooney, si stylist yang mematikan, Berbatov, dan si nakal yang pantang menyerah, Tevez. Mereka akan bersaing dengan penyihir cilik ajaib yang runner-up Pemain terbaik dunia 2008 dan kandidat tebaik dunia 2009, Lionel Messi, pembunuh di kotak penalti, Eto’o, penari Perancis yang menemukan kembali permainannya, Henry, serta kejutan dari bocah asli Catalan, Krkic.
Lini tengah akan bertempur sang orkestra Barca, Xavi, dibantu si pengejut, Iniesta, serta penjagal yang peredam, Yaya Toure melawan efektifitas Carrick, kejeniusan Scholes, dan pemuda yang visioner, Anderson.
Di belakang Barca akan kehilangan sang kapten Alves dan Abidal (masing-masing skorsing kartu kuning dan kartu merah) serta Marques yang cedera sehingga akan menyisakan Puyol, Pique dengan beberapa alternatif pengganti, bisa Sylvinho, dan kembali menarik Toure berduet dengan Pique di belakang dan menjadikan Keyta atau Helb mendampingi Xavi dan Iniesta. Sementara MU turun fultim dengan formasi Ferdinand, Vidic, Evra, dan Neville. Masing-masing akan digawangi 2 kiper yang masih dipuncak penampilan, van Der Sar dan Valdes.
Nah, perhatian dunia tentu akan menuju kepada 2 pemain terbaik dunia dengan posisi sama, penyerang sayap. Yah Ronaldo dan Messi, yang satu high profile, meledak-ledak, satunya lagi sangat low profile. Tapi untuk eksplosifnya jangan ditanya, dua-duanya dahsyat.
Ronaldo telah membuktikan dirinya sebagai penyerang sayap paling berbahaya di dunia pada musim lalu yang dilengkapi dengan gelar juara, dan kini Messi akan mencoba membuktikan bahwa singasana Ronaldo sudah layak dia ambil dimana sementara dia unggul dalam perebutan sepatu emas tahun ini, 8 gol dibanding 4 gol.
Saya lebih memilih Messi dan Barca yang akan berjaya di tahun 2009 ini, tetapi kalaupun tidak pertandingan nanti malam tetap akan saya kenang sebagai momen yang indah dalam persepakbolaan moderen.
Yah, sebagai birokrat, malam nanti akan membuat sejenak saya melupakan kepenatan pekerjaan kantor dan masa tunggu tanggal muda yang kelamaan. Udahlah, kita kembali ke lapangan.
Barca, tim dengan permainan ‘total football’ dengan aroma latin khas tim Catalan terbukti menjadi pasukan paling produktif dalam Liga Champions (LC) musim 2008/09 ini. Tidak kurang dari 33 gol mereka lesakkan ke gawang lawan dari bombardir Messi, Eto’o, Henry, Iniesta, Xavi, Krkic, bahkan Pique.
Menyerang adalah filosofi tim ini yang dibangun sejak kedatangan si pencipta total football Rinus Michels pada tahun 1970-an, dia meletakkan fondasi tim yang khas dengan permainan menyerang ala Belanda yang diramu dengan bakat-bakat latin Catalan. Michels hanya berjaya di La Liga dan belum memberikan trophy Eropa bagi Barca. Tapi penerusnya adalah pangeran total footbal, Johann Crujff pada dekade 1990-an yang berhasil merajai La Liga dan sempat memberikan trophy Liga Champions pertama bagi Barca pada musim 1991/92 dan runner-up pada 1993/94. Lalu terakhir oleh generasi emas total football Belanda di Euro ’88, Frank Rijkard pada dekade 2000-an yang memberikan gelar juara Eropa pada musim 2005/06. Kini warisan sepakbola memikat itu diteruskan oleh pelatih lokal berbakat didikan Johann Cruijff, Josep ‘Pep’ Guardiola.
Filosofi total football dimana semua pemain bergerak bergelombang dengan sentuhan dari kaki ke kaki telah menghancurkan Sporting Lisbon, Shakhtar Donets, dan FC Basel di penyisihan grup C, lalu raja Perancis di 16 besar, Lyon dengan agregat 6-3 serta raja Jerman di 8 besar, Muenchen dengan agregat 5-1.
Seorang arsitek total football lainnya, Guus Hidink dengan Chelsea-nya, mencoba menghadang di semifinal dengan metode Cattenacio Italia. Pemain-pemain Chelsea dengan postur badan yang superior, Ballack (189 cm), Terry (187 cm), Alex (186 cm), Drogba (188 cm), Cech (191 cm), hampir berhasil mempecundangi Barca sampai menjelang detik-detik terakhir permainan. Tapi 2 bocah ajaib dengan tinggi badan 170 cm, Messi (assister) dan Iniesta (scorer) yang hanya didukung 8 orang lainnya (Abidal di kartu merah) menghentikan sebuah sistem anti total football ala Guus Hidink. Sebuah semifinal dramatis yang mungkin bisa disaingi oleh final LC musim 1998/99 ketika MU mempecundangi Muenchen dengan 2 gol lewat setpiece Beckham pada saat-saat terakhir.
MU sendiri, sang juara bertahan, adalah asuhan si gaek Sir Alex Ferguson sejak 1986 silam. MU adalah juara Eropa pada 1967/68, 1998/99, dan tahun lalu 2007/08. Dua gelar terakhir dipersembahkan oleh Fergie, sementara gelar pertama oleh Sir yang lain, Matt Busby. Pelatih yang mengasuh MU lebih dari 23 tahun ini adalah penganut sepakbola efektif yang mengutamakan keseimbangan di semua lini. Sistem yang sederhana yang disertai strategi yang tepat dalam melawan setiap tim yang dihadapi memperlihatkan intelegensia seorang Fergie dalam meramu MU. MU adalah tim yang sulit dikalahkan walaupun dalam keadaan tertinggal. Kita bisa melihat ini pada saat MU-Juve di perempat final musim 1998/99, Muenchen di final 1998/99, serta Roma pada perempat final 2004/05.
Pada LC musim ini MU, walaupun sedikit kalah mengkilat dibanding Barca, juga tidak kurang elegannya dalam melewati fase-fase yang menentukan dalam perjalanan menuju Roma. Kalau Barca paling produktif dengan 33 gol, MU hanya 18 gol tapi justru paling sedikit kebobolan, hanya 8 gol sementara Barca 13 gol. Perjalanan MU seperti tim Panser Jerman, makin lama makin panas dan kencang. Diawali laga-laga kurang meyakinkan di fase penyisihan Grup E dimana hanya menang 2 kali melawan Aalborg dan Celtic tanpa bisa mengalahkan Villareal, toh MU tetap lolos sebagai juara grup.
Perjalanan berikutnya juga masih dilewati dengan ‘harap-harap cemas’. Imbang dengan Inter Milan di San Siro tapi mempecundanginya dengan 2 gol di Old Trafford di 16 besar. Lalu FC Porto dilibas dengan sebuah gol tunggal spektakuler Ronaldo di Porto setelah menahan imbang 2-2 di Manchester. Makin lama makin panas, Arsenal jadi korban di semifinal dengan 2 kekalahan, 1-0 di Old Traford dan 3-1 di Emirates Stadium.
Ancaman untuk Barca akan dimulai dari Pemain Terbaik Dunia 2008, Ronaldo, si bandel nan gempal, Rooney, si stylist yang mematikan, Berbatov, dan si nakal yang pantang menyerah, Tevez. Mereka akan bersaing dengan penyihir cilik ajaib yang runner-up Pemain terbaik dunia 2008 dan kandidat tebaik dunia 2009, Lionel Messi, pembunuh di kotak penalti, Eto’o, penari Perancis yang menemukan kembali permainannya, Henry, serta kejutan dari bocah asli Catalan, Krkic.
Lini tengah akan bertempur sang orkestra Barca, Xavi, dibantu si pengejut, Iniesta, serta penjagal yang peredam, Yaya Toure melawan efektifitas Carrick, kejeniusan Scholes, dan pemuda yang visioner, Anderson.
Di belakang Barca akan kehilangan sang kapten Alves dan Abidal (masing-masing skorsing kartu kuning dan kartu merah) serta Marques yang cedera sehingga akan menyisakan Puyol, Pique dengan beberapa alternatif pengganti, bisa Sylvinho, dan kembali menarik Toure berduet dengan Pique di belakang dan menjadikan Keyta atau Helb mendampingi Xavi dan Iniesta. Sementara MU turun fultim dengan formasi Ferdinand, Vidic, Evra, dan Neville. Masing-masing akan digawangi 2 kiper yang masih dipuncak penampilan, van Der Sar dan Valdes.
Nah, perhatian dunia tentu akan menuju kepada 2 pemain terbaik dunia dengan posisi sama, penyerang sayap. Yah Ronaldo dan Messi, yang satu high profile, meledak-ledak, satunya lagi sangat low profile. Tapi untuk eksplosifnya jangan ditanya, dua-duanya dahsyat.
Ronaldo telah membuktikan dirinya sebagai penyerang sayap paling berbahaya di dunia pada musim lalu yang dilengkapi dengan gelar juara, dan kini Messi akan mencoba membuktikan bahwa singasana Ronaldo sudah layak dia ambil dimana sementara dia unggul dalam perebutan sepatu emas tahun ini, 8 gol dibanding 4 gol.
Saya lebih memilih Messi dan Barca yang akan berjaya di tahun 2009 ini, tetapi kalaupun tidak pertandingan nanti malam tetap akan saya kenang sebagai momen yang indah dalam persepakbolaan moderen.
Hamilton Juara, Apa Kata Saya...
Sunday, November 2, 2008
Balapan paling menegangkan sepanjang sejarah saya nonton formula one adalah seri terakhir tahun 2008 ini di Interlagos, Brasil. Bayangkan, gelar juara dunia pembalap ditentukan di tikungan terakhir pada lap terakhir juga. Dramatis.
Pendukung Massa dan Ferrari tentunya bersedih, tapi tetap bisa tersenyum bangga.
Yang penting, saya lega karena prediksi Arief Kurniawan salah besar. Dia memprediksi Kimi yang bakal juara setelah seri Silverstone, kenyataannya Kimi keteter.
Tahun 2009 nanti kayaknya F1 bakal lebih menarik. Bakal bantak kontender juara dunia. Hamilton jadi defending champion dan musti kuat mental karena dia jadi lebih diincar pembalap lain, lha sekarang aja semua pembalap rame2 menghadang dia apalagi jadi juara bertahan. Massa dan Kimi bakal coba merebut kembali. Massa sudah membuktikan bahwa dia juga matang dan Kimi mencari gairah baru setelah memble selama 2008. Alonso menunjukkan prospek membaik seperti ditunjukkan di 5 seri terakhir 2008 ini dan tahun depan diperkirakan akan semakin mantap. Kubica yang memimpin klasemen hingga seri ke 7 di Kanada tapi memble di dua seri terakhir di Shanghai dan Interlagos bakal jadi penantang serius juga. Kita lihat juga perkembangan Vettel dengan mobil Red Bull setelah gemilang di tahun ini dengan Torro Rosso.
Sampai ketemu di Maret 2009.
Pendukung Massa dan Ferrari tentunya bersedih, tapi tetap bisa tersenyum bangga.
Yang penting, saya lega karena prediksi Arief Kurniawan salah besar. Dia memprediksi Kimi yang bakal juara setelah seri Silverstone, kenyataannya Kimi keteter.
Tahun 2009 nanti kayaknya F1 bakal lebih menarik. Bakal bantak kontender juara dunia. Hamilton jadi defending champion dan musti kuat mental karena dia jadi lebih diincar pembalap lain, lha sekarang aja semua pembalap rame2 menghadang dia apalagi jadi juara bertahan. Massa dan Kimi bakal coba merebut kembali. Massa sudah membuktikan bahwa dia juga matang dan Kimi mencari gairah baru setelah memble selama 2008. Alonso menunjukkan prospek membaik seperti ditunjukkan di 5 seri terakhir 2008 ini dan tahun depan diperkirakan akan semakin mantap. Kubica yang memimpin klasemen hingga seri ke 7 di Kanada tapi memble di dua seri terakhir di Shanghai dan Interlagos bakal jadi penantang serius juga. Kita lihat juga perkembangan Vettel dengan mobil Red Bull setelah gemilang di tahun ini dengan Torro Rosso.
Sampai ketemu di Maret 2009.
Pembukaan Olimpiade Beijing: Mau Bilang Apa?
Monday, August 11, 2008
Apa yang bisa dikomentari dari pembukaan Olimiade Beijing?
Arief Kurniawan Prematur
Tuesday, July 22, 2008
Lewis Hamilton adalah pembalap rookie yang pada tahun 2007 langsung bersaing memperebutkan gelar juara dunia. Saya jatuh hati mulai pada penampilan pertamanya di Melbourne, Maret 2007 lalu. Bagaimana tidak, bule keling asal negeri Ratu Elizabeth tersebut mempertontonkan bakat yang luar biasa sebagai seorang pembalap baru yang langsung naik podium, waktu itu ke-3, di balapan pertamanya.
Minggu kemarin, tepatnya Jumat 18 Juli 2008, Bola melakukan liputan khusus berupa rapor tengah musim Formula 1 (sayang link-nya tidak bisa saya dapat di situs bolanew.com karena edisi Senin udah terbit). Sang Wakil Pimred yang jadi komandan untuk F1, Arief Kurniawan (AK), memprediksi persaingan sengit perebutan juara dunia pembalap pada 3 orang, Felipe Massa, Kimi Raikkonen, dan Lewis Hamilton. Meski masih ada kuda hitam yang ada pada Robert Kubica dan Nick Heidfeld, tapi 3 pembalap top tersebut layak dikedepankan. Dan siapa bakal juara menurut AK? Kimi.
Saya kontan langsung tidak setuju. Kenapa? AK menganalisis setelah seri GP di Silverstone dimana Lewis menang dengan gemilang dan sayangnya menutut AK ini hanya sukses karena faktor hujan dan tidak akan berlanjut pada seri2 berikutnya. Dia memprediksi bahwa di seri berikutnya di Hockenheim yang menang adalah Massa. AK langsung salah pada prediksi pertamanya karena lagi2 Lewis menang dengan gagah perkasa.
Lalu saya juga ingat bahwa mulai tengah musim, tepatnya GP Perancis atau yang ke 8 sampai GP Belgia atau yang ke 14 pada tahun lalu, Fernando Alonso dan Hamilton sedang bersaing memimpin, AK memprediksi bahwa Alonso yang bakal juara dunia di akhir musim. Waktu itu AK menjadi komentator di acara Jelang Balap dan Kilas Balap yang ditayangkan Global TV. Di akhir musim, yang jadi juara malah Kimi. Dan AK sangat bahagia meski prediksinya salah, asal bukan Lewis.
Menarik untuk menunggu prediksi AK selanjutnya, apakah dia akan melupakan prediksi dia. Prediksi saya, di akhir musim yang akan juara dunia adalah Hamilton. Ini prediksi dari sebelum musim berjalan. Massa kedua, dan Kimi ketiga.
Minggu kemarin, tepatnya Jumat 18 Juli 2008, Bola melakukan liputan khusus berupa rapor tengah musim Formula 1 (sayang link-nya tidak bisa saya dapat di situs bolanew.com karena edisi Senin udah terbit). Sang Wakil Pimred yang jadi komandan untuk F1, Arief Kurniawan (AK), memprediksi persaingan sengit perebutan juara dunia pembalap pada 3 orang, Felipe Massa, Kimi Raikkonen, dan Lewis Hamilton. Meski masih ada kuda hitam yang ada pada Robert Kubica dan Nick Heidfeld, tapi 3 pembalap top tersebut layak dikedepankan. Dan siapa bakal juara menurut AK? Kimi.
Saya kontan langsung tidak setuju. Kenapa? AK menganalisis setelah seri GP di Silverstone dimana Lewis menang dengan gemilang dan sayangnya menutut AK ini hanya sukses karena faktor hujan dan tidak akan berlanjut pada seri2 berikutnya. Dia memprediksi bahwa di seri berikutnya di Hockenheim yang menang adalah Massa. AK langsung salah pada prediksi pertamanya karena lagi2 Lewis menang dengan gagah perkasa.
Lalu saya juga ingat bahwa mulai tengah musim, tepatnya GP Perancis atau yang ke 8 sampai GP Belgia atau yang ke 14 pada tahun lalu, Fernando Alonso dan Hamilton sedang bersaing memimpin, AK memprediksi bahwa Alonso yang bakal juara dunia di akhir musim. Waktu itu AK menjadi komentator di acara Jelang Balap dan Kilas Balap yang ditayangkan Global TV. Di akhir musim, yang jadi juara malah Kimi. Dan AK sangat bahagia meski prediksinya salah, asal bukan Lewis.
Menarik untuk menunggu prediksi AK selanjutnya, apakah dia akan melupakan prediksi dia. Prediksi saya, di akhir musim yang akan juara dunia adalah Hamilton. Ini prediksi dari sebelum musim berjalan. Massa kedua, dan Kimi ketiga.
Catatan Piala Eropa 2008 (4): Tim Impian Gue
Wednesday, July 16, 2008
Kalau yang ini pilihan subyektif gue selama Piala Eropa. Walaupun agak ada fanatik dikit pada pemain2 tertentu.
Kiper: Edwin van der Sar, Iker Casillas, dan Stipe Pletikoza. Belanda yang selalu bermain terbuka mengharuskan punya kiper yang tangguh. Kalau nggak kebobolan terus. Van der Sar cuman kebobolan 1 di penyisihan, dan di play-off 1 gol di waktu normal dan 2 gol di perpanjangan waktu ketika para bek Belanda benar2 tidak berdaya oleh gempuran Rusia. Casillas lebih tertolong oleh solidnya barisan pertahanan Spanyol. Tetapi Casillas menunjukkan perbedaan pada adu penalti melawan Italia yang dijaga kiper terbaik Piala Dunia 2006, Buffon. Lalu kenapa kiper ketiga saya pilih kiper Kroasia menyisihkan deretan kiper high profile seperti Buffon, Cech, Recber, dll? Ini karena penampilannya yang cukup baik di penyisihan grup, terutama waktu melawan Jerman. Waktu adu penalti melawan Turki, dia tidak dapat berbuat banyak mengingat mental tim secara keseluruhan sudah hancur. Tapi, kayaknya nih kiper akan segera mentereng, karena sudah usia matang, 28 tahun.
Bek tengah: Carles Puyol, Carlos Marchena, Christoph Metzelder, Hakan Balta, dan Joris Marthijsen. Pilihan utama ada pada Puyol dan Marchena, duet Barca-Valencia ini cukup konsisten penampilannya dari penyisihan grup hingga final. Pilihan berikutnya ada pada Metzelder, si Jerman yang paling konsisten di barisan pertahanan. Hakan Balta menunjukkan
ketangguhan seorang bek dari tim dengan permainan terbuka. Sama dengan Marthijsen yang harus menjadi batu karang bagi tim Belanda yang selalu tampil menyerang.
Bek sayap: Philip Lahm di kiri, dan Sergio Ramos atau Giovani van Bronchorst di kanan.
Ini profile bek2 yang aktif menyerang. Ketiganya menunjukkan determinasi yang tinggi sebagai bagian dari pertahanan yang aktif membantu penyerangan. Sayang Van Bronchorst sudah berumur, padahal masih lumayan sebenarnya.
Gelandang:
Gelandang bertahan: Mehmet Aurelio, Marcos Senna, dan Orlando Engelaar
Tipikal pekerja keras di lapangan tengah. Mereka adalah sosok Frank Rijkard di masa lalu.
Gelandang menyerang: Andres Iniesta, Michael Ballack, Wesley Sneijder, Hamit Altintop, dan Bastian Schweinsteiger
Pemain2 cepat dengan lari yang cukup kencang ditambah umpan2 terukur adalah skil yang dibutuhkan untuk gelandang menyerang. Altintop dan Schweini merajai assist di turnamen ini, dan yang lain adalah mesin penyerangan yang cukup mobil.
Playmaker: Andrey Arshafin atau Xavi Hernandez
Arshafin adalah 'new Zidane' di turnamen ini. Kejelian Aragones di semifinal dengan menempatkan Marcos Senna dan David Silva untuk mengawasi pergerakannya secara bergantian membuatnya lumpuh. Tapi dia menunjukkan kehebatannya di depan tim Swedia dan Belanda dengan menjadi orkestra tunggal bagi kehebatan Rusia. Xavi di klubnya selama ini tenggelam di bawah bayang2 Ronaldinho dan Leonel Messi. Tapi di Euro kali ini, dia bermain konsisten untuk menjadi dirijen yang mengendalikan lapangan tengah Spanyol.
Penyerang: David Villa, Roman Pavlyuchenko,
Nihat Kahveci, Lucas Podolski.
Pavlyuchenko adalah tipe penyelesai akhir yang kuat menahan bola, jitu dalam tembakan, dan petarung yang tangguh untuk bola2 atas. Tipikal Ruud van Nistelrooy atau Luca Tony yang kini sudah mulai kehilangan kecepatan. Yang lain adalah second striker.
Formasi 1: 4-4-2, Pelatih: Luis Aragones atau Joachim Loaw
Kiper: Edwin van der Sar
Bek: Philip Lahm, Carles Puyol, Carlos Marchena, Giovani van Bronchorst
Gelandang: Mehmet Aurelio, Andrey Arshafin, Hamit Altintop, Bastian Schweinsteiger
Penyerang: David Villa, Roman Pavlyuchencko.
Formasi 2: 4-2-3-1, Pelatif: Fatih Terim atau Guus Hidink
Kiper: Edwin van der Sar
Bek: Philip Lahm, Carles Puyol, Carlos Marchena, Sergio Ramos
Gelandang: Mehmet Aurelio, Andrey Arshafin, Xavi Hernandez, Hamit Altintop, Bastian Schweinsteiger
Penyerang: Roman Pavlyuchencko.
Bayangin aja kalau pemain2 di atas tiba2 dibujuk Nurdin Halid untuk jadi WNI dan mereka mau semua. Wow, nggak lama kemudian Indonesia menjadi juara dunia lalu Nurdin Halid mencalonkan diri jadi presiden dan menang pada Pemilu langsung.
Namanya juga mimpi.....
Zzzzzzzz....................
Kiper: Edwin van der Sar, Iker Casillas, dan Stipe Pletikoza. Belanda yang selalu bermain terbuka mengharuskan punya kiper yang tangguh. Kalau nggak kebobolan terus. Van der Sar cuman kebobolan 1 di penyisihan, dan di play-off 1 gol di waktu normal dan 2 gol di perpanjangan waktu ketika para bek Belanda benar2 tidak berdaya oleh gempuran Rusia. Casillas lebih tertolong oleh solidnya barisan pertahanan Spanyol. Tetapi Casillas menunjukkan perbedaan pada adu penalti melawan Italia yang dijaga kiper terbaik Piala Dunia 2006, Buffon. Lalu kenapa kiper ketiga saya pilih kiper Kroasia menyisihkan deretan kiper high profile seperti Buffon, Cech, Recber, dll? Ini karena penampilannya yang cukup baik di penyisihan grup, terutama waktu melawan Jerman. Waktu adu penalti melawan Turki, dia tidak dapat berbuat banyak mengingat mental tim secara keseluruhan sudah hancur. Tapi, kayaknya nih kiper akan segera mentereng, karena sudah usia matang, 28 tahun.
Bek tengah: Carles Puyol, Carlos Marchena, Christoph Metzelder, Hakan Balta, dan Joris Marthijsen. Pilihan utama ada pada Puyol dan Marchena, duet Barca-Valencia ini cukup konsisten penampilannya dari penyisihan grup hingga final. Pilihan berikutnya ada pada Metzelder, si Jerman yang paling konsisten di barisan pertahanan. Hakan Balta menunjukkan
ketangguhan seorang bek dari tim dengan permainan terbuka. Sama dengan Marthijsen yang harus menjadi batu karang bagi tim Belanda yang selalu tampil menyerang.
Bek sayap: Philip Lahm di kiri, dan Sergio Ramos atau Giovani van Bronchorst di kanan.
Ini profile bek2 yang aktif menyerang. Ketiganya menunjukkan determinasi yang tinggi sebagai bagian dari pertahanan yang aktif membantu penyerangan. Sayang Van Bronchorst sudah berumur, padahal masih lumayan sebenarnya.
Gelandang:
Gelandang bertahan: Mehmet Aurelio, Marcos Senna, dan Orlando Engelaar
Tipikal pekerja keras di lapangan tengah. Mereka adalah sosok Frank Rijkard di masa lalu.
Gelandang menyerang: Andres Iniesta, Michael Ballack, Wesley Sneijder, Hamit Altintop, dan Bastian Schweinsteiger
Pemain2 cepat dengan lari yang cukup kencang ditambah umpan2 terukur adalah skil yang dibutuhkan untuk gelandang menyerang. Altintop dan Schweini merajai assist di turnamen ini, dan yang lain adalah mesin penyerangan yang cukup mobil.
Playmaker: Andrey Arshafin atau Xavi Hernandez
Arshafin adalah 'new Zidane' di turnamen ini. Kejelian Aragones di semifinal dengan menempatkan Marcos Senna dan David Silva untuk mengawasi pergerakannya secara bergantian membuatnya lumpuh. Tapi dia menunjukkan kehebatannya di depan tim Swedia dan Belanda dengan menjadi orkestra tunggal bagi kehebatan Rusia. Xavi di klubnya selama ini tenggelam di bawah bayang2 Ronaldinho dan Leonel Messi. Tapi di Euro kali ini, dia bermain konsisten untuk menjadi dirijen yang mengendalikan lapangan tengah Spanyol.
Penyerang: David Villa, Roman Pavlyuchenko,
Nihat Kahveci, Lucas Podolski.
Pavlyuchenko adalah tipe penyelesai akhir yang kuat menahan bola, jitu dalam tembakan, dan petarung yang tangguh untuk bola2 atas. Tipikal Ruud van Nistelrooy atau Luca Tony yang kini sudah mulai kehilangan kecepatan. Yang lain adalah second striker.
Formasi 1: 4-4-2, Pelatih: Luis Aragones atau Joachim Loaw
Kiper: Edwin van der Sar
Bek: Philip Lahm, Carles Puyol, Carlos Marchena, Giovani van Bronchorst
Gelandang: Mehmet Aurelio, Andrey Arshafin, Hamit Altintop, Bastian Schweinsteiger
Penyerang: David Villa, Roman Pavlyuchencko.
Formasi 2: 4-2-3-1, Pelatif: Fatih Terim atau Guus Hidink
Kiper: Edwin van der Sar
Bek: Philip Lahm, Carles Puyol, Carlos Marchena, Sergio Ramos
Gelandang: Mehmet Aurelio, Andrey Arshafin, Xavi Hernandez, Hamit Altintop, Bastian Schweinsteiger
Penyerang: Roman Pavlyuchencko.
Bayangin aja kalau pemain2 di atas tiba2 dibujuk Nurdin Halid untuk jadi WNI dan mereka mau semua. Wow, nggak lama kemudian Indonesia menjadi juara dunia lalu Nurdin Halid mencalonkan diri jadi presiden dan menang pada Pemilu langsung.
Namanya juga mimpi.....
Zzzzzzzz....................
Catatan Piala Eropa 2008 (3): Play-off
A. Perempat Final
Portugal vs Jerman (2-3)
Sebenarnya agak kaget melihat jalannya pertandingan pada perempat final pertama ini. Portugal begitu lemah pada set piece bola-bola mati Jerman. Schweiny membayar lunas kesalahannya ketika mendapat kartu merah di pertandingan lawan Kroasia dengan sebuah gol dan 2 assists. Schweiny mencetak gol dengan pergerakan yang mengagumkan dengan berlari kencang dari lapangan tengah untuk menyambut umpan tarik Podolski pada menit 21. Portugal makin bingung ketika kali ini Schweiny dengan dingin mengarsiteki bola mati untuk dimanfaatkan Klose lima menit kemudian.
Lalu Portugal mulai mencoba memainkan pola asli mereka dan memaksakan ball possession. Hasilnya di menit 40 melalui kapten Nuno Gomez Portugal menipiskan ketinggalan menjadi 1-2.
Di babak kedua, justru gol Ballack yang lagi-lagi memanfaatkan tendangan bebas Scheweiny membuat Jerman menjauh 1-3 pada menit 61. Dua pemain Chelsea bertarung dan Ballack sukses mengelabui Ferreira dengan sedikit dorongan. Wasit membiarkan dan memang seharusnya begitu. Lain halnya jika Ferreira waktu itu agak cerdas sedikit dengan menjatuhkan diri, pasti gol Ballack dianulir.
Tik-tak 2 pemain pengganti yang masuk terlambat, Nani dan Postiga, cuman membuat 1 gol di menit 86. Nani mengirim umpan dan Postiga menanduknya untuk menundukkan Lehmann.
Gol telat ini tidak dapat menyelamatkan Portugal dan Scheweiny membuktikan diri sebagai seorang winger papan atas yang tak kalah dengan kapten kedua lawan, Christiano Ronaldo. Yah Scheweiny-lah pemain terbaik.
Kroasia vs Turki (1-1, penalty 1-3)
Kembali Turki memperlihatkan keajaiban yang mereka perlihatkan ketika melawan Swiss dan Ceko. Kali ini jauh lebih dramatis dengan menampilkan kembali aktor yang berjasa melawan Swiss, Semih Senturk. Sepanjang jalannya pertandingan yang sebenarnya cukup seru karena dua tim bermain terbuka, namun gol tiada kunjung datang. Turki yang mulai didera problem skorsing dan cedera, memainkan kiper gaek pahlawan Turki di Piala Dunia 2002, Rustu Recber. Kroasia full team. Dua babak dalam 90 menit berakhir 0-0.
Pada perpanjangan waktu sisa 3 menit atau menit 117, sang kapten Nihat Kahveci terpincang-pincang dan tidak dapat meneruskan pertandingan. Sementara sebelumnya Kroasia menambahkan gedoran dengan menampilkan Ivan Klasnic, pemain dengan riwayat dua kali transplantasi ginjal (tadinya dari ayah terus gagal, lalu sama ibunya dan berhasil.
Drama itu terjadi di menit 119, beberapa detik menjelang perpanjangan waktu berakhir ketika Klasnic menaklukkan Recber, 1-0 untuk Kroasia. Ketika pemain2 Kroasia bersiap2 merayakan kemenangan, Recber secara spekulatif menendang bola ke arah kotak penalti lawan, dan Senturk bertarung mendapatkan bola dan mendapat sepersekian detik lebih cepat untuk menyambar bola dan gol. 1-1. Woooww.
Semua orang bengong. Slaven Bilic yang temperamental tidak percaya dan memprotes wasit ke-4 yang sedang menyiapkan tambahan waktu 2 menit.
Lalu Turki menuntaskan adu penalti dengan gagah. Recber menjawab keraguan dengan menahan 1 penalti, dan mengintimidasi Modric dan Rakitic dengan antisipasi yang tepat hingga sepakan mereka menyamping.
Salut buat Fatih Terim yang menggelorakan jiwa pantang menyerah pada pasukannya. Pemain terbaik: Recber, dan kredit buat Senturk.
Belanda vs Rusia (1-1, extra time 1-3)
jalannya pertandingan
Spanyol vs Itali (1-1. penalty 4-2)
jalannya pertandingan
B. Semi Final
Jerman vs Turki (3-2)
jalannya pertandingan
Spanyol vs Rusia (3-0)
jalannya pertandingan
C. Final
Spanyol vs Jerman (1-0)
jalannya pertandingan
Portugal vs Jerman (2-3)
Sebenarnya agak kaget melihat jalannya pertandingan pada perempat final pertama ini. Portugal begitu lemah pada set piece bola-bola mati Jerman. Schweiny membayar lunas kesalahannya ketika mendapat kartu merah di pertandingan lawan Kroasia dengan sebuah gol dan 2 assists. Schweiny mencetak gol dengan pergerakan yang mengagumkan dengan berlari kencang dari lapangan tengah untuk menyambut umpan tarik Podolski pada menit 21. Portugal makin bingung ketika kali ini Schweiny dengan dingin mengarsiteki bola mati untuk dimanfaatkan Klose lima menit kemudian.
Lalu Portugal mulai mencoba memainkan pola asli mereka dan memaksakan ball possession. Hasilnya di menit 40 melalui kapten Nuno Gomez Portugal menipiskan ketinggalan menjadi 1-2.
Di babak kedua, justru gol Ballack yang lagi-lagi memanfaatkan tendangan bebas Scheweiny membuat Jerman menjauh 1-3 pada menit 61. Dua pemain Chelsea bertarung dan Ballack sukses mengelabui Ferreira dengan sedikit dorongan. Wasit membiarkan dan memang seharusnya begitu. Lain halnya jika Ferreira waktu itu agak cerdas sedikit dengan menjatuhkan diri, pasti gol Ballack dianulir.
Tik-tak 2 pemain pengganti yang masuk terlambat, Nani dan Postiga, cuman membuat 1 gol di menit 86. Nani mengirim umpan dan Postiga menanduknya untuk menundukkan Lehmann.
Gol telat ini tidak dapat menyelamatkan Portugal dan Scheweiny membuktikan diri sebagai seorang winger papan atas yang tak kalah dengan kapten kedua lawan, Christiano Ronaldo. Yah Scheweiny-lah pemain terbaik.
Kroasia vs Turki (1-1, penalty 1-3)
Kembali Turki memperlihatkan keajaiban yang mereka perlihatkan ketika melawan Swiss dan Ceko. Kali ini jauh lebih dramatis dengan menampilkan kembali aktor yang berjasa melawan Swiss, Semih Senturk. Sepanjang jalannya pertandingan yang sebenarnya cukup seru karena dua tim bermain terbuka, namun gol tiada kunjung datang. Turki yang mulai didera problem skorsing dan cedera, memainkan kiper gaek pahlawan Turki di Piala Dunia 2002, Rustu Recber. Kroasia full team. Dua babak dalam 90 menit berakhir 0-0.
Pada perpanjangan waktu sisa 3 menit atau menit 117, sang kapten Nihat Kahveci terpincang-pincang dan tidak dapat meneruskan pertandingan. Sementara sebelumnya Kroasia menambahkan gedoran dengan menampilkan Ivan Klasnic, pemain dengan riwayat dua kali transplantasi ginjal (tadinya dari ayah terus gagal, lalu sama ibunya dan berhasil.
Drama itu terjadi di menit 119, beberapa detik menjelang perpanjangan waktu berakhir ketika Klasnic menaklukkan Recber, 1-0 untuk Kroasia. Ketika pemain2 Kroasia bersiap2 merayakan kemenangan, Recber secara spekulatif menendang bola ke arah kotak penalti lawan, dan Senturk bertarung mendapatkan bola dan mendapat sepersekian detik lebih cepat untuk menyambar bola dan gol. 1-1. Woooww.
Semua orang bengong. Slaven Bilic yang temperamental tidak percaya dan memprotes wasit ke-4 yang sedang menyiapkan tambahan waktu 2 menit.
Lalu Turki menuntaskan adu penalti dengan gagah. Recber menjawab keraguan dengan menahan 1 penalti, dan mengintimidasi Modric dan Rakitic dengan antisipasi yang tepat hingga sepakan mereka menyamping.
Salut buat Fatih Terim yang menggelorakan jiwa pantang menyerah pada pasukannya. Pemain terbaik: Recber, dan kredit buat Senturk.
Belanda vs Rusia (1-1, extra time 1-3)
jalannya pertandingan
Spanyol vs Itali (1-1. penalty 4-2)
jalannya pertandingan
B. Semi Final
Jerman vs Turki (3-2)
jalannya pertandingan
Spanyol vs Rusia (3-0)
jalannya pertandingan
C. Final
Spanyol vs Jerman (1-0)
jalannya pertandingan
Subscribe to:
Posts (Atom)